Author

Rita Khathir
rkhathir@usk.ac.id
Profesor bidang teknologi pascapanen
Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
Bencana hidrometeorologi Aceh 2025 telah memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan seluruh masyarakat di Provinsi Aceh. Tidak kira yang terdampak langsung maupun yang tidak langsung. Secara statistik, masyarakat yang terdampak langsung seperti mengalami kerusakan rumah, harus mengungsi dan berada dalam wilayah yang terisolasi parah mencapai 40%. Adapun Kota Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh turut terisolasi secara massal yang ditandai dengan kelangkaan barang pokok kebutuhan warga serta lonjakan harga yang signifikan. Antrean panjang pengisian BBM atau pengambilan tabung gas LPG menjadi suatu fenomena rutin.
Pemerintah dengan dukungan berbagai pihak telah berusaha keras melakukan berbagai upaya tanggap darurat bencana seperti mengusahakan pasokan logistik makanan dan obat-obatan kepada masyarakat, menormalkan jalur transportasi dan energi listrik, membuka dapur umum, menyediakan tenaga medis, melakukan pembersihan sumur, dan lain sebagainya. Bantuan dari masyarakat untuk masyarakat juga banyak dilakukan. Setiap gampong melakukan aksi donasi melibatkan pemuda gampong untuk mengambil donasi ke rumah warga. Beberapa posko donasi juga dibuka di pinggir jalan untuk memudahkan masyarakat yang mau menitipkan bantuan. Penggalangan dana secara online juga berlangsung sehingga donasi dapat masuk dari dalam dan luar negeri, misalnya melalui Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) telah berhasil menghimpun dana dari masyarakat Indonesia di Jerman.
Saya menuliskan tulisan ini dalam kapasitas saya sebagai anggota masyarakat. Apa yang dapat kita lakukan sebagai individu dan komunitas? Ya kita dapat segera melakukan proses adaptasi sosial. Secara definisi, adaptasi adalah proses penyesuaian diri makhluk hidup (termasuk manusia, hewan, tumbuhan) terhadap perubahan lingkungan agar bisa bertahan hidup, mencari makan, melindungi diri, dan berkembang biak, yang bisa terjadi secara fisik (morfologi), fungsi tubuh (fisiologi), atau perilaku (tingkah laku), seperti bunglon mengubah warna kulit, kaktus menyimpan air, atau manusia belajar kebiasaan baru di lingkungan baru.
Adaptasi sosial berupa perubahan kebiasaan dapat menjadi upaya meningkatkan ketangguhan atau ketahanan kita pascabencana ini. Ada tiga tahapan adaptasi yang telah dan sedang kita lalui, yang pertama adalah shock, yaitu guncangan atas kesulitan yang kita alami pascabencana yang terkadang membawa kita pada level frustrasi. Tahap kedua adalah recovery yaitu tahapan pemulihan di mana kita berupaya menerima kesulitan pascabencana dan berusaha mendapatkan rasa aman dan nyaman. Tahapan ketiga adalah adjustment yaitu tahapan di mana kita telah menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini dan melakukan berbagai upaya untuk terus berjuang dalam kehidupan.
Dalam tulisan saya sebelumnya yang bertajuk “Islam kekuatan healing orang Aceh dalam menghadapi bencana”, proses recovery dapat kita lakukan dengan mengambil sikap ikhlas dan menerima ujian bencana ini sebagai ketentuan Allah SWT. Metode ini merupakan cara pencegahan frustrasi yang paling efektif. Dalam Islam kita dilarang berputus asa daripada rahmat Allah, dengan kata lain kita wajib bersikap optimis menatap masa depan dan berupaya melakukan berbagai hal yang kita bisa.
Pada tahapan adjustment, kita dapat melakukan berbagai reformasi keseharian untuk mewujudkan ketahanan bencana. Ini adalah saatnya kita menerapkan pepatah “Jika tidak ada rotan akar pun jadi”. Kekuatan komunitas dapat kita maksimalkan. Sebagai contoh, ketika harga telur ayam meningkat drastis, apabila secara komunitas kita dapat menahan diri untuk tidak membeli telur, maka harga telur secara otomatis akan kembali ke normal. Hanya kita membutuhkan kesabaran dan kepatuhan komunitas dalam hal ini. Komando pimpinan komunitas (Geuchiek) harus kita patuhi. Kita perlu sinergisitas, ketika ulama dan pemerintah sudah menghimbau agar pedagang tidak menaikkan harga barang dan jasa secara tidak wajar, maka pimpinan komunitas perlu mengarahkan masyarakat agar menahan diri untuk tidak membeli barang dan jasa tersebut. Di samping itu, kita juga perlu ilmu pengetahuan, apa makanan lain yang tinggi kandungan proteinnya yang dapat dijadikan alternatif pengganti telur ayam.
Menghidupkan gotong royong sebagai budaya dapat kita laksanakan kembali dalam mengatasi permasalahan yang ada. Gotong royong tahap pertama dapat dilakukan dengan membentuk posko pengungsian, membuka dapur umum, dan melakukan evakuasi. Selanjutnya gotong royong tahap kedua dapat dilakukan dengan membersihkan tempat ibadah, sekolah, dan perumahan warga yang masih layak huni, serta membersihkan sumur.
Gotong royong juga membutuhkan komando pimpinan komunitas. Apabila pimpinan belum berinisiatif, maka masyarakat dapat memberikan saran dan nasehat kepada pimpinan, sehingga program gotong royong dapat dihidupkan kembali secara masif di tengah masyarakat. Selama ini, budaya gotong royong sudah tergerus dengan efek bantuan langsung tunai (BLT). Sudah saatnya kita merevisi kembali nilai budaya gotong royong tanpa pamrih untuk kemaslahatan bersama.
Momen edukasi publik dapat dibuat setelah salat berjamaah melalui kuliah tujuh menit (kultum). Tokoh ulama dapat menguatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat, tokoh umara dapat mengarahkan dan memfasilitasi kebutuhan mendesak masyarakat (prioritas), dan tokoh adat (MAA) dapat merekomendasikan adaptasi kegiatan sosial budaya (new approach) di tengah masyarakat. Sebagai bukti empati, seluruh masyarakat Aceh harus bergerak seirama, terutama masyarakat di wilayah tidak terdampak langsung oleh bencana banjir dan longsor. Kita perlu bukti nyata sikap berkabung regional, dalam proses tanggap darurat bencana Aceh 2025.
Menyikapi situasi era digitalisasi di mana media sosial terbuka sangat lebar, kita perlu mengambil sikap hati-hati terdapat berita dan video yang diedarkan oleh pihak yang tidak dikenal atau mungkin mengandung informasi fake. Sesuatu yang kita lihat sebagai hasil postingan orang lain, belum tentu bersifat asli dan boleh jadi rekayasa. Berita-berita yang memprovokasi persatuan bangsa dan negara perlu kita filter sebaik-baiknya.
Akhirnya, sebagai manusia yang dibekali akal oleh Allah SWT., sudah sepatutnya kita mengembangkan kemampuan beradaptasi di masa sulit dan menyelesaikan segala permasalahan. Dalam keadaan normal kita dapat memasak nasi dengan rice cooker. Ketika tidak ada listrik kita harus bisa memasak nasi dengan kompor gas. Ketika gas tidak ada kita harus bisa menanak nasi dengan kompor kayu, dan seterusnya. Bahkan, ketika beras tidak ada, kita harus mampu mencari alternatif makanan pengganti. Namun, untuk menjadi manusia yang tangguh, kita harus belajar sehingga memiliki ketrampilan dan mampu berkreativitas. Oleh karena itu, mari kita amalkan satu hal yaitu menuntut ilmu sepanjang hayat.