Author

Ari J. Palawi
Email: teras.dr.ari@gmail.com
Etnomusikolog/Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala
Artikel ini melanjutkan percakapan dari “Masa Depan Seni Aceh yang Belum Selesai”, kini dengan arah yang lebih strategis: dari refleksi menuju rekayasa sistemik pendidikan seni. Di Universitas Syiah Kuala, Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) berperan sebagai laboratorium pengetahuan yang menata ulang relasi antara seni, riset, dan masyarakat. Seni dipahami bukan sekadar keterampilan ekspresif, melainkan metode berpikir dan membaca realitas. Melalui praktik, refleksi, dan kolaborasi, pendidikan seni diarahkan untuk melahirkan pembelajar budaya—manusia yang menafsirkan dunia melalui bentuk, bunyi, dan gerak, serta menumbuhkan peradaban yang berkeadaban dan berkesadaran.
Dari Gagasan Awal ke Sistem Akademik
Didirikan pada 1993, Sendratasik adalah salah satu program studi tertua di bawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala. Ia lahir di tengah semangat rekonstruksi pascakonflik dan pascatsunami, ketika seni dipandang sebagai sarana penyembuhan sosial sekaligus peneguhan identitas. Generasi awal pengajarnya—yang sebagian besar adalah seniman dan pendidik lapangan—membangun kurikulum berbasis pengalaman, di mana teori dan praktik saling berkelindan. Mahasiswa belajar tidak hanya dari buku, tetapi dari tubuh dan lanskap kebudayaan di sekitarnya.
Namun seiring perubahan kebijakan pendidikan nasional, terutama penerapan Outcome-Based Education (OBE) dan sistem akreditasi BAN-PT yang sangat terukur, ritme pendidikan seni ikut berubah. Di atas kertas, OBE menjanjikan efisiensi dan akuntabilitas. Tetapi di lapangan, pendekatan ini sering mereduksi proses artistik menjadi indikator administratif. Proposal riset disusun sebelum mahasiswa sempat mengalami proses penciptaan, dan laporan karya ditulis dalam format teknokratis yang meminggirkan intuisi kreatif. Dosen yang sebelumnya berperan sebagai mentor artistik kini lebih banyak berhadapan dengan formasi dokumen, bukan pergulatan gagasan. Dalam situasi ini, pendidikan seni di USK berhadapan dengan paradoks: semakin terstruktur secara administratif, tetapi semakin kehilangan spontanitas dan daya eksplorasinya.
Krisis yang muncul bukan semata manajerial, melainkan epistemik. Seni beroperasi melalui pengalaman, rasa, dan improvisasi—sesuatu yang sulit dikonversi menjadi rubrik capaian. Ketegangan antara sistem akademik dan logika artistik menandai fase baru perjalanan Sendratasik: upaya menegosiasikan antara idealisme kreatif dan keharusan institusional. Di titik ini, transformasi diperlukan bukan untuk menolak sistem, melainkan untuk menata ulang cara sistem memahami seni sebagai sumber pengetahuan.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Pengetahuan
Pada dekade pertama berdirinya, ruang-ruang studio di Darussalam berfungsi ganda sebagai kelas, laboratorium, sekaligus panggung. Mahasiswa bereksperimen di antara tumpukan alat musik dan kostum, dan setiap pertunjukan menjadi peristiwa pembelajaran yang menyeberang antara teori, praktik, dan riset lapangan. Spirit itulah yang kini perlu dihidupkan kembali dalam konteks baru.
Implementasi OBE yang menempatkan riset di ujung kurikulum telah menggeser cara belajar: mahasiswa diminta menulis sebelum mencipta, dan meneliti sebelum mengalami. Akibatnya, riset kehilangan dimensi tubuh dan pengalaman. Padahal, dalam seni, pemahaman justru tumbuh melalui interaksi langsung antara gagasan, medium, dan konteks sosialnya. Reformasi yang diperlukan adalah rekonstruksi epistemologi—mengembalikan seni sebagai metode berpikir yang berbasis pengalaman, bukan sekadar keterampilan ekspresif.
Model spiral pembelajaran yang pernah menjadi tradisi Sendratasik perlu dihidupkan kembali: teori menuntun praktik, praktik memicu refleksi, dan refleksi melahirkan pengetahuan baru. Dalam model ini, studio berfungsi sebagai laboratorium pengetahuan; setiap karya tari, musik, atau teater diperlakukan sebagai teks budaya yang bisa dibaca, dikritik, dan didokumentasikan. Pendekatan ini bukan nostalgia romantik, melainkan kebutuhan metodologis agar mahasiswa belajar mencipta dengan kesadaran, dan meneliti dengan kepekaan estetis.
Membangun Ekosistem: Empat Pilar Transformasi
Menata ulang pendidikan seni di universitas umum seperti USK membutuhkan keberanian untuk berpikir sistemik—menghubungkan antara struktur kelembagaan, riset, dan jaringan sosial. Empat pilar berikut dirancang sebagai kerangka strategis menuju transformasi ekosistem pengetahuan seni.
Pertama, pengakuan epistemik.
Universitas perlu memberi legitimasi formal terhadap practice-based research dan practice-led research sebagai metode riset yang sahih. Evaluasi harus melampaui tulisan ilmiah konvensional dengan membuka ruang bagi dokumentasi proses, refleksi kritis, dan nilai sosial dari karya. Dalam skala awal, skema uji coba satu tahun untuk sepuluh tugas akhir berbasis praktik dapat menjadi prototipe model baru penilaian akademik seni di USK.
Kedua, infrastruktur riset-praktik.
Saat ini studio dan laboratorium di Sendratasik masih berfungsi terpisah. Padahal, integrasi keduanya penting untuk menciptakan ruang hibrid yang mendukung riset kolaboratif lintas bidang—dari seni pertunjukan hingga teknologi media. Sebuah studio riset dengan fasilitas rekaman, arsip digital, dan ruang pamer mini di kampus utama dapat berperan sebagai simpul antara penciptaan, dokumentasi, dan diseminasi hasil riset. Target realistis: tiga proyek lintas disiplin per semester yang diarsipkan dan dipublikasikan secara terbuka.
Ketiga, pendanaan adaptif.
Salah satu hambatan utama riset seni di universitas umum adalah siklus pendanaan yang pendek dan birokratis. Diperlukan model seed grant internal dengan mekanisme kolaboratif, yang memungkinkan dosen dan mahasiswa bermitra dengan komunitas lokal. Sistem co-funding dengan lembaga budaya dan keterbukaan hasil penelitian akan menciptakan sirkulasi pengetahuan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat jejaring sosial kampus.
Keempat, regenerasi kepemimpinan akademik.
Pendidikan seni memerlukan kepemimpinan yang memahami logika penciptaan sekaligus tata kelola universitas. Program mentorship dua tahun bagi calon ketua program studi, yang memadukan pengalaman praktik, publikasi berbasis karya, dan pelatihan manajerial, dapat membangun generasi pengelola yang reflektif dan visioner terhadap kebudayaan. Dengan demikian, transformasi tidak berhenti di tataran gagasan, tetapi menubuh dalam kepemimpinan.
Dari Proyek ke Pengetahuan
Perubahan sistemik berawal dari ruang terkecil: kelas dan studio. Di sanalah gagasan diuji, dan pendidikan menemukan maknanya kembali. Kurikulum seni harus memberi ruang bagi eksperimen dan iterasi kreatif—proses yang mengizinkan kegagalan sebagai bagian dari pencarian. Penilaian harus menimbang perjalanan intelektual dan reflektif, bukan semata produk akhir.
Dokumentasi menjadi elemen esensial. Setiap praktik artistik menyimpan data pengetahuan melalui rekaman, catatan lapangan, dan wawancara yang, jika diarsipkan secara sistematis, akan menjadi memori institusional dan sumber riset publik. USK memiliki peluang besar untuk membangun digital repository of practice yang mengintegrasikan hasil karya, refleksi, dan data lapangan ke dalam satu sistem terbuka, menjadi rujukan bagi peneliti, pendidik, dan komunitas seni di Aceh.
Lebih jauh, pendidikan seni perlu memperluas ruang belajarnya melalui residensi komunitas dan creative fieldwork. Dengan tinggal dan belajar langsung dari pelaku tradisi, mahasiswa tidak hanya memahami bentuk seni, tetapi juga logika sosial yang melahirkannya. Dokumentasi dan refleksi atas pengalaman ini memperkuat hubungan etis antara kampus dan masyarakat—bahwa belajar seni berarti memahami kehidupan yang menopangnya.
Menghubungkan Komunitas, Akademia, dan Dunia
Ekosistem seni di Aceh tidak tumbuh dari atas, melainkan dari bawah—dari kerja komunitas, sanggar, dan ruang eksperimental yang menjadikan seni sebagai cara berpikir. Mereka mengembangkan model pendidikan informal berbasis pengalaman, arsip, dan kolaborasi lintas generasi. Universitas Syiah Kuala perlu hadir bukan sebagai pusat kontrol, tetapi sebagai simpul yang menghubungkan dinamika akar rumput dengan riset akademik.
Kolaborasi yang dibangun harus bersifat simbiosis: riset memberi penguatan metodologis bagi komunitas, sementara komunitas memberi konteks empirik bagi universitas. Pertukaran kurikulum, riset bersama, serta dokumentasi reflektif dapat melahirkan model pembelajaran yang relevan dengan realitas sosial Aceh hari ini. Kemitraan lintas wilayah dan internasional akan semakin memperkaya cara memahami lokalitas tanpa kehilangan bahasa budaya sendiri.
Keberhasilan pendidikan seni tidak lagi diukur dari jumlah festival atau pementasan, melainkan dari sejauh mana ia melahirkan pengetahuan baru: publikasi, arsip, model pembelajaran, dan inovasi sosial yang berdampak. Target tiga tahun ke depan adalah terbentuknya open archive berisi sedikitnya dua belas keluaran riset atau dokumenter berbasis praktik yang dapat diakses publik, sebagai bukti bahwa seni telah kembali berfungsi sebagai sumber pengetahuan.
Epilog: Saat Seni Mengajar Universitas
Perjalanan Sendratasik adalah cermin perjalanan seni Aceh itu sendiri: dari tradisi menuju refleksi, dari idealisme menuju sistem, dan kini dari sistem menuju ekosistem. Tugas generasi hari ini bukan hanya menjaga warisan, tetapi menafsirkan ulang cara kita menumbuhkan pengetahuan dari warisan itu.
Universitas Syiah Kuala memiliki peluang langka untuk menjadi model nasional tentang bagaimana pendidikan seni dapat hidup di universitas umum tanpa kehilangan jiwanya. Untuk itu, universitas perlu belajar dari logika seni sendiri: lentur dalam berpikir, reflektif dalam bertindak, kolaboratif dalam tumbuh, dan manusiawi dalam tujuan.
Seni mengajarkan bahwa pengetahuan tidak berhenti pada akurasi, melainkan berlanjut pada empati; tidak hanya mengukur hasil, tetapi menumbuhkan kesadaran. Ketika nilai-nilai ini menjiwai kebijakan akademik, pendidikan tidak lagi sekadar administrasi, tetapi perjalanan kultural yang menumbuhkan kecerdasan dan peradaban bangsa.
Jika tulisan sebelumnya menyebut masa depan seni Aceh “belum selesai”, maka di ruang kelas dan studio Universitas Syiah Kuala, masa depan itu kini sedang dikerjakan—setiap hari, dalam senyap, di antara bentuk, bunyi, dan tubuh yang terus menulis ulang makna pengetahuan.