{"id":912,"date":"2025-12-26T09:43:45","date_gmt":"2025-12-26T09:43:45","guid":{"rendered":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/?p=912"},"modified":"2026-03-09T07:03:13","modified_gmt":"2026-03-09T07:03:13","slug":"seni-sebagai-sistem-imun-sosial-pengetahuan-hidup-aceh-dan-krisis-kemanusiaan-yang-terus-berulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/2025\/12\/26\/seni-sebagai-sistem-imun-sosial-pengetahuan-hidup-aceh-dan-krisis-kemanusiaan-yang-terus-berulang\/","title":{"rendered":"Seni sebagai Sistem Imun Sosial: Pengetahuan Hidup Aceh dan Krisis Kemanusiaan yang Terus Berulang"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"912\" class=\"elementor elementor-912\" data-elementor-settings=\"[]\">\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-section-wrap\">\n\t\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-e87d44c elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"e87d44c\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-50 elementor-top-column elementor-element elementor-element-43caea12\" data-id=\"43caea12\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4af26aae elementor-widget elementor-widget-premium-addon-title\" data-id=\"4af26aae\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"premium-addon-title.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\n\t<div class=\"premium-title-container style4\">\n\t\t<h2 class=\"premium-title-header premium-title-style4\">\n\t\t\t\n\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<span class=\"premium-title-text\" >\n\t\t\t\tAuthor\t\t\t<\/span>\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/h2>\n\t<\/div>\n\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-121060f4 elementor-vertical-align-middle elementor-position-top elementor-widget elementor-widget-image-box\" data-id=\"121060f4\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image-box.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-image-box-wrapper\"><figure class=\"elementor-image-box-img\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"301\" height=\"376\" src=\"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Ari-J-Palawi.jpg\" class=\"attachment-medium_large size-medium_large\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Ari-J-Palawi.jpg 301w, https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Ari-J-Palawi-240x300.jpg 240w\" sizes=\"auto, (max-width: 301px) 100vw, 301px\" \/><\/figure><div class=\"elementor-image-box-content\"><h3 class=\"elementor-image-box-title\">Ari J. Palawi<\/h3><p class=\"elementor-image-box-description\"><span style=\"letter-spacing: 0.1px;\"><br>teras.dr.ari@gmail.com<br>Akademia Seni, Universitas Syiah Kuala<\/p><\/div><\/div>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-50 elementor-top-column elementor-element elementor-element-4e71d6cf\" data-id=\"4e71d6cf\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-6316474c elementor-widget elementor-widget-wp-widget-text\" data-id=\"6316474c\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"wp-widget-text.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"textwidget\"><p><span lang=\"IN\">Bencana ekologis dan krisis kemanusiaan yang berulang di Aceh dan Sumatra hampir selalu dijelaskan melalui bahasa teknokratis: curah hujan ekstrem, perubahan iklim global, kegagalan tata ruang, atau lemahnya infrastruktur mitigasi. Penjelasan ini penting dan sahih, tetapi jarang utuh. Ia menjawab bagaimana bencana terjadi, namun sering gagal menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa peringatan telah hadir jauh sebelum bencana, tetapi tidak dikenali sebagai pengetahuan yang layak didengar dan direspons?<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Dalam dua dekade terakhir, Aceh dan wilayah Sumatra lainnya mengalami banjir besar, longsor, dan krisis ekologis berulang. Data deforestasi menunjukkan penyusutan tutupan hutan yang signifikan, terutama akibat ekspansi perkebunan skala besar, pertambangan, dan perubahan tata guna lahan. Namun yang sering luput dari analisis kebijakan adalah fakta bahwa bersamaan dengan rusaknya lanskap ekologis, runtuh pula lanskap pengetahuan sosial yang selama berabad-abad berfungsi sebagai penyangga kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Dalam tradisi Aceh dan Gayo, pengetahuan tersebut tidak disimpan dalam laporan teknis atau peta risiko, melainkan dihidupkan melalui praktik budaya&mdash;khususnya seni&mdash;yang bekerja secara preventif. Seni, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi estetis atau hiburan pascabencana, melainkan mekanisme pengaturan relasi manusia dengan alam, sesama, dan kekuasaan.<\/span><\/p>\n<h2><span lang=\"IN\">Mendefinisikan Ulang Seni: Dari Representasi ke Infrastruktur<\/span><\/h2>\n<p><span lang=\"IN\">Dalam kerangka modern, seni sering diposisikan sebagai wilayah simbolik: ia merepresentasikan realitas, menyuarakan kritik, atau menyembuhkan trauma. Fungsi-fungsi ini penting, tetapi bersifat reaktif. Dalam banyak masyarakat adat, seni justru dirancang untuk mencegah krisis, bukan sekadar meresponsnya. Ia bekerja sebagai sistem sensorik sosial&mdash;mendeteksi ketidakseimbangan, memberi tanda peringatan, dan mengoreksi arah sebelum kehancuran menjadi tak terelakkan.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Dalam pengertian ini, seni dapat dipahami sebagai sistem imun sosial-ekologis. Seperti sistem imun biologis, ia tidak selalu terlihat, tetapi aktif menjaga keseimbangan melalui respons dini. Ia bekerja melalui bahasa (syair), tubuh (gerak kolektif), ingatan (narasi lintas generasi), dan keberanian moral (tindakan publik).<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Didong, Saman, Seudati, dan tradisi Hikayat di Aceh dan Gayo membentuk satu arsitektur pengetahuan yang saling melengkapi&mdash;bukan genre seni yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekologi pengetahuan hidup.<\/span><\/p>\n<h2><span lang=\"IN\">Didong, Saman, Seudati: Spektrum Pencegahan yang Terintegrasi<\/span><\/h2>\n<p><span lang=\"IN\">Penelitian <\/span><span lang=\"IN\"><a href=\"https:\/\/scholar.google.com\/citations?view_op=view_citation&amp;hl=en&amp;user=IQ57vJgAAAAJ&amp;citation_for_view=IQ57vJgAAAAJ:u5HHmVD_uO8C\">Amris Albayan<\/a><\/span><span lang=\"EN-US\"> (2017)<\/span><span lang=\"IN\"> menunjukkan bahwa Didong di Tanoh Gayo bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan praktik pengetahuan lisan yang hidup dalam keseharian masyarakat. Syair-syairnya memuat kritik sosial, nasihat ekologis, dan refleksi moral yang disampaikan secara improvisatoris oleh para ceh. Improvisasi ini bukan spontanitas tanpa dasar, melainkan hasil dari keterhubungan mendalam dengan lanskap hidup: hutan, ladang, adat, dan relasi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Didong berfungsi sebagai bahasa peringatan dini. Ia hadir sebelum krisis, bukan sesudahnya. Ketika pembukaan hutan melampaui batas, ketika air diperlakukan sebagai komoditas semata, atau ketika norma adat dilanggar, Didong menjadi ruang koreksi publik. Hilangnya Didong dari kehidupan sehari-hari berarti hilangnya satu kanal penting untuk membaca tanda-tanda krisis sejak dini.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Saman memperlihatkan dimensi lain dari sistem imun ini. Kajian <\/span><span lang=\"IN\"><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/259749819_The_Saman_Gayo_Lues_Sitting_Song-Dance_and_Its_Recognition_as_an_Item_of_Intangible_Cultural_Heritage\">Margaret Kartomi<\/a><\/span><span lang=\"IN\"> tentang Saman Gayo Lues menegaskan bahwa praktik ini secara historis adalah institusi sosial yang melatih disiplin kolektif, sinkronisasi, dan akuntabilitas. Ketepatan ritme dan keserempakan gerak bukan sekadar estetika, melainkan latihan etika hidup bersama: setiap kesalahan terlihat, setiap penyimpangan segera dikoreksi.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\"><a href=\"https:\/\/ich.unesco.org\/en\/USL\/saman-dance-00509\">Pengakuan UNESCO<\/a><\/span><span lang=\"IN\"> membawa pengakuan global, tetapi juga risiko de-kontekstualisasi. Ketika Saman dipisahkan dari ekosistem sosialnya dan diposisikan terutama sebagai tontonan, ia kehilangan fungsi utamanya sebagai pembentuk ketahanan sosial&mdash;yakni kemampuan komunitas untuk bergerak selaras menghadapi tekanan eksternal, termasuk bencana ekologis.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Seudati melengkapi spektrum ini dengan dimensi yang sering luput dalam diskursus kebencanaan: keberanian publik. Kajian <\/span><span lang=\"IN\"><a href=\"https:\/\/scholar.google.com\/citations?view_op=view_citation&amp;hl=en&amp;user=3kjhrVIAAAAJ&amp;citation_for_view=3kjhrVIAAAAJ:9yKSN-GCB0IC\">Raseuki<\/a><\/span><span lang=\"IN\"> (1993) menunjukkan bahwa Seudati berakar pada tradisi dakwah dan pembentukan karakter kolektif masyarakat Aceh. Ritme tubuh, tepukan dada, dan vokal yang tegas adalah latihan mental dan moral untuk tidak diam ketika nilai dilanggar. Dalam banyak krisis lingkungan, pengetahuan sebenarnya telah tersedia; yang sering absen adalah keberanian untuk bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut. Seudati, dalam struktur aslinya, melatih keberanian itu.<\/span><\/p>\n<h2><span lang=\"IN\">Hikayat dan Ingatan Panjang tentang Sebab&ndash;Akibat<\/span><\/h2>\n<p><span lang=\"IN\">Jika Didong, Saman, dan Seudati bekerja di ranah kini, maka tradisi Hikayat beroperasi dalam dimensi waktu yang lebih panjang. Hikayat&mdash;termasuk <\/span><span lang=\"IN\"><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/aripalawi9083\/68a75a4ac925c43a393b1352\/hikayat-adnan-suara-yang-menghidupkan-aceh\">Hikayat Adnan<span lang=\"EN-US\"> PMTOH<\/span><\/a><\/span><span lang=\"IN\">&mdash;berfungsi sebagai arsip moral kolektif, menyimpan narasi tentang hubungan sebab&ndash;akibat antara keserakahan, pengingkaran adat, dan kehancuran sosial. Dalam tradisi ini, bencana tidak pernah dipahami sebagai peristiwa netral; ia selalu memiliki genealoginya.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Ingatan panjang ini adalah elemen krusial dalam pencegahan krisis. Masyarakat yang memutus ingatan kolektifnya akan selalu terkejut oleh bencana yang sesungguhnya telah lama dikenalnya. Ketika hikayat direduksi menjadi teks sastra atau arsip budaya, fungsinya sebagai sistem peringatan lintas generasi ikut memudar.<\/span><\/p>\n<h2><span lang=\"IN\">Seni sebagai Terapi: Penting, tetapi Bukan Hulu<\/span><\/h2>\n<p><span lang=\"IN\">Sebagai penyeimbang, penelitian <\/span><span lang=\"IN\"><a href=\"https:\/\/ejournal.usm.my\/wacanaseni\/article\/view\/ws-vol13-2014-1\">Kartomi<\/a><\/span><span lang=\"IN\"> tentang respons seni terhadap trauma tsunami dan konflik Aceh menunjukkan peran penting seni dalam pemulihan psikososial pascabencana. Musik, zikir, dan tari<\/span><span lang=\"EN-US\">an<\/span><span lang=\"IN\"> membantu memulihkan kohesi sosial, spiritualitas, dan rasa makna komunitas terdampak.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Namun fungsi ini bersifat kuratif. Ia bekerja setelah kegagalan sistem pencegahan. Ketika seni hanya diposisikan sebagai alat penyembuhan, kita secara tidak sadar menerima krisis sebagai keniscayaan, bukan sebagai kegagalan kolektif dalam membaca dan merespons peringatan yang telah lama tersedia.<\/span><\/p>\n<h2><span lang=\"IN\">Implikasi Kebijakan: Mengembalikan Seni ke Hulu Kehidupan<\/span><\/h2>\n<p><span lang=\"IN\">Krisis kemanusiaan dan ekologis yang berulang di Aceh dan Sumatra tidak semata akibat alam yang ekstrem, melainkan akibat pemutusan relasi antara kebijakan publik dan pengetahuan hidup masyarakat. Didong, Saman, Seudati, dan Hikayat menunjukkan bahwa seni adalah bagian dari infrastruktur pencegahan&mdash;bukan ornamen budaya.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Implikasi kebijakannya jelas. Mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan perlu mengintegrasikan pengetahuan budaya sebagai sistem peringatan dini sosial-ekologis. Ini mencakup pengakuan wilayah kelola adat, pelibatan komunitas lokal dalam perencanaan tata ruang, serta kebijakan budaya yang tidak memisahkan seni dari ekosistem hidup yang melahirkannya.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Seni masih dipertontonkan. Tetapi jarang lagi didengar sebagai pengetahuan. Barangkali krisis terbesar kita hari ini bukan krisis alam semata, melainkan krisis pendengaran&mdash;ketidakmampuan membaca tanda-tanda yang telah lama disuarakan oleh budaya.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Dan selama seni terus ditempatkan di hilir&mdash;sebagai hiburan atau terapi&mdash;kita akan terus terkejut ketika alam memilih berbicara dengan bahasa yang paling keras.<\/span><\/p>\n<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ari J. Palawi&#8212; Seni masih dipertontonkan. Tetapi jarang lagi didengar sebagai pengetahuan. Barangkali krisis terbesar kita hari ini bukan krisis alam semata, melainkan krisis pendengaran\u2014ketidakmampuan membaca tanda-tanda yang telah lama disuarakan oleh budaya.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":913,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35,3,27],"tags":[],"class_list":["post-912","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cultural","category-opinion","category-social"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/912","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=912"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/912\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":952,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/912\/revisions\/952"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/913"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=912"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=912"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/prisb.usk.ac.id\/vfv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=912"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}